Dolar AS Tertekan Menjelang Pengumuman Suku Bunga Federal Reserve

Dolar AS Tertekan Menjelang Pengumuman Suku Bunga Federal Reserve

Dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026, dan berada di jalur penurunan selama empat hari berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh membaiknya sentimen risiko global setelah meningkatnya harapan terhadap finalisasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip Investing.com, Rabu, 17 Juni 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,1 persen ke level 99,56.

Optimisme pasar didorong oleh rencana pertemuan resmi antara Washington dan Teheran di Swiss pada Jumat mendatang untuk menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar penghentian konflik kedua negara. Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya setelah penandatanganan kesepakatan tersebut.

Trump juga menegaskan bahwa dokumen tersebut akan menjadi fondasi penting untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, sejumlah media Iran melaporkan pembahasan terkait program nuklir masih bersifat umum dan belum memasuki tahap negosiasi rinci.

Pasar turut mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, sementara perhatian investor tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru dan pernyataan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh.

Di sisi lain, Bank Sentral Jepang (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen, level tertinggi dalam 31 tahun. Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan inflasi dan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.

Sementara itu, dolar Australia sedikit melemah setelah Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,35 persen. Pasar juga menunggu keputusan Bank of England (BoE) yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneternya di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Inggris.

Penurunan harga minyak yang terjadi beberapa hari terakhir turut memberikan ruang bagi bank sentral dunia untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan moneter. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin fokus pada prospek pertumbuhan ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga ke depan.