Dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan menuju level tertinggi dalam sepekan pada awal perdagangan Asia, Senin (20/4/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong investor mencari aset safe haven.
Berdasarkan data Investing.com, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,3 persen ke level 98,485. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 13 April 2026.
Penguatan ini membalikkan tren pelemahan yang terjadi pada akhir pekan lalu, ketika dolar sempat tertekan akibat meningkatnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai di kawasan konflik.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Safe Haven
Analis dari Westpac menilai perkembangan terbaru selama akhir pekan berpotensi meredam optimisme pasar terkait perdamaian.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Di sisi lain, Iran menyatakan tidak akan melanjutkan putaran kedua pembicaraan damai meskipun ada ancaman serangan lanjutan dari AS.
Situasi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Investor Masih Favoritkan Dolar AS
Sementara itu, analis dari Barclays menyebut bahwa sentimen pasar masih menunjukkan preferensi terhadap dolar AS. Meski demikian, terdapat peluang pelemahan jika situasi geopolitik kembali stabil.
Mereka juga menilai bahwa volatilitas pasar akibat konflik saat ini mungkin tidak akan berlangsung lama, sehingga ruang pergerakan ekstrem menjadi terbatas.
Mata Uang Global Melemah
Penguatan dolar AS turut menekan sejumlah mata uang utama dunia. Euro tercatat turun 0,3 persen menjadi USD1,1731, sementara poundsterling Inggris juga melemah dengan persentase yang sama ke level USD1,3480.
Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,2 persen ke posisi 158,945 yen. Dolar juga naik 0,1 persen terhadap yuan Tiongkok menjadi 6,8244 yuan di pasar offshore.
Selain itu, dolar Australia melemah 0,6 persen menjadi USD0,7122, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,4 persen ke level USD0,5856.
Penguatan dolar AS ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik global masih menjadi pendorong utama pergerakan pasar keuangan, terutama dalam menentukan arah aliran dana investor internasional.
