Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan, seiring langkah Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan atau BI Rate. Kebijakan moneter tersebut dinilai memberikan sentimen positif terhadap stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis, 22 Januari 2026, hingga pukul 09.52 WIB, rupiah berada di level Rp16.902 per dolar AS. Mata uang Garuda tersebut menguat 34 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.936 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah pada waktu yang sama berada di posisi Rp16.958 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan pelemahan 28 poin atau 0,17 persen dibandingkan level sebelumnya di Rp16.930 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif, dengan kecenderungan ditutup melemah. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.930 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait isu Greenland. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan sikapnya mengenai Greenland dengan alasan kepentingan keamanan di kawasan Arktik, serta mengancam pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa.
Sikap tersebut memicu respons keras dari Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan dan paksaan. Pernyataan yang disampaikan di sela Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum di Davos itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Eropa terhadap kebijakan dan retorika Washington.
Meski Trump menyatakan Amerika Serikat tengah mengupayakan solusi yang dapat diterima oleh NATO, investor global tetap bersikap waspada. Ketidakpastian tersebut turut menunda rencana paket dukungan ekonomi senilai 800 miliar dolar AS untuk Ukraina yang semula dibahas di Davos.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan fiskal dan moneter. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal hingga 2,92 persen pada APBN 2025 merupakan langkah strategis untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui kebijakan countercyclical.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate di level 4,75 persen, dengan suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen dan lending facility di 5,5 persen. Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus membuka ruang penurunan suku bunga ke depan dengan tetap memperhatikan sasaran inflasi tahun 2026.
Dikutip dari metrotvnews.com
