Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah mencatat pelemahan pada pekan sebelumnya. Pelaku pasar saat ini menantikan perkembangan perundingan perdamaian di Timur Tengah serta sinyal terbaru terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Yahoo Finance, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, termasuk euro dan yen Jepang, bertahan di level 99,00. Posisi tersebut relatif tidak berubah setelah indeks dolar melemah 0,4 persen sepanjang pekan lalu.
Pergerakan mata uang utama lainnya menunjukkan euro turun 0,08 persen menjadi USD1,165. Yen Jepang juga melemah 0,08 persen ke level 159,41 per dolar AS. Sementara itu, poundsterling Inggris terkoreksi 0,07 persen menjadi USD1,3449.
Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia diperdagangkan stabil pada level USD0,7181 terhadap dolar AS. Adapun dolar Selandia Baru atau kiwi melemah 0,17 persen menjadi USD0,5978.
Pelemahan indeks dolar pada pekan lalu dipengaruhi oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi global karena menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor. Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan setelah Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait usulan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Kesepakatan yang tengah dibahas disebut akan memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari dan memungkinkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali berjalan normal.
Selain perkembangan geopolitik, pasar juga menyoroti data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini. Data tersebut dipandang penting untuk memberikan gambaran kondisi ekonomi AS sekaligus menjadi pertimbangan bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter berikutnya.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) yang akan diumumkan pada 5 Juni 2026 diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran sebesar 4,3 persen dengan penambahan sekitar 85 ribu lapangan kerja baru.
Sejumlah pejabat Federal Reserve sebelumnya mengindikasikan bahwa tekanan inflasi yang dipicu konflik geopolitik dapat mendorong bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Saat ini, pasar memperkirakan langkah berikutnya dari The Fed adalah menaikkan suku bunga acuan dari kisaran 3,50 persen menjadi 3,75 persen sebelum akhir tahun 2026.
Prospek kebijakan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memberikan dukungan bagi penguatan dolar AS, meskipun perkembangan situasi geopolitik dan kondisi ekonomi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.
