Indeks S&P 500 ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin, 15 Desember 2025, seiring berlanjutnya tekanan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran valuasi setelah rotasi investor pekan lalu ke sektor-sektor siklikal pasar.
Mengutip Investing.com, Selasa, 16 Desember 2025, indeks S&P 500 turun 0,2 persen. NASDAQ Composite mencatatkan penurunan lebih dalam sebesar 0,6 persen, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,1 persen atau turun 31 poin.
Penjualan saham teknologi besar yang telah terlihat sejak pekan lalu berlanjut pada awal pekan ini. Sejumlah saham raksasa teknologi seperti Alphabet Inc Class A, Broadcom Inc, dan Oracle Corporation tercatat berada di zona merah. Pergerakan ini mencerminkan berlanjutnya perdagangan rotasi sektor yang semakin intensif.
Setelah mencatatkan penguatan signifikan sepanjang tahun yang didorong oleh tema kecerdasan buatan, investor kini mulai mengunci keuntungan dan mengalihkan dana ke sektor-sektor yang dinilai lebih sensitif terhadap aktivitas ekonomi.
“Pertanyaan dalam beberapa minggu ke depan adalah apakah sektor teknologi akan terus menjadi sumber dana untuk membeli saham siklikal, atau justru kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun akan menekan perdagangan siklikal dan mendorong aliran dana kembali ke teknologi,” tulis analis Raymond James dalam catatan terbarunya.
Di tengah pelemahan sektor teknologi secara umum, NVIDIA Corporation justru mampu mencatatkan kenaikan lebih dari satu persen. Penguatan tersebut didukung pandangan JPMorgan yang menilai koreksi saham produsen chip tersebut sebagai peluang beli.
Pasar saham Amerika Serikat kini bersiap menghadapi sejumlah agenda penting. Indeks saham berjangka tercatat sedikit menguat, sementara investor menantikan rilis data ekonomi utama yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga.
Perhatian pasar juga tertuju pada arah kepemimpinan Federal Reserve ke depan. Laporan Wall Street Journal menyebutkan Presiden AS Donald Trump telah mempersempit kandidat ketua The Fed berikutnya menjadi mantan Gubernur Kevin Warsh dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett.
Prospek kepemimpinan Fed yang lebih lunak turut memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga pada tahun depan, meskipun inflasi masih berada di atas target dua persen. Dari sisi data, pasar akan mencermati rilis nonfarm payrolls yang dijadwalkan pada Selasa, mencakup data November dan Oktober yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan.
Selain itu, rilis data aktivitas bisnis, klaim pengangguran mingguan, serta inflasi di akhir pekan juga akan menjadi sorotan. “Data pekerjaan minggu ini bisa menjadi lebih penting bagi persepsi pasar saham terhadap kebijakan suku bunga dibandingkan hasil pertemuan FOMC pekan lalu,” ujar Michael Wilson, ahli strategi Morgan Stanley.
Investor juga akan memantau pernyataan sejumlah pejabat The Fed serta laporan keuangan emiten besar seperti Micron, Nike, dan Accenture. Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa suku bunga acuan bank sentral AS kini telah mendekati level yang memungkinkan The Fed menunggu data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
Dikutip dari metrotvnews.com
