Setelah Terpuruk, Dolar AS Berangsur Menguat terhadap Mata Uang Utama

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB. Penguatan ini terjadi setelah dolar tertekan dalam beberapa sesi terakhir, meski secara mingguan masih berada di jalur penurunan untuk pekan ketiga berturut-turut.

Mengutip Xinhua, Sabtu (13/12/2025), indeks dolar—yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama—naik 0,05 persen ke level 98,397.

Pada penutupan perdagangan di New York, poundsterling Inggris melemah ke posisi USD1,3366 dari USD1,3389 pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang menjadi 155,90 yen dari sebelumnya 155,61 yen. Terhadap franc Swiss, dolar naik ke level 0,7959 dari 0,7951.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap dolar Kanada menjadi 1,3766 dari 1,3779. Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,2732 dari 9,2542.

Pergerakan dolar masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan. Federal Reserve memangkas suku bunga seperti yang telah diperkirakan pasar pada pekan ini. Namun, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dinilai investor kurang agresif, sehingga justru memperkuat tekanan jual terhadap dolar.

Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter AS pada 2026, mengingat tren inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja masih belum sepenuhnya jelas.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026. Proyeksi tersebut berbeda dengan pandangan para pembuat kebijakan The Fed yang memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga pada 2026 dan satu kali lagi pada 2027.

Sejumlah pejabat The Fed yang menentang pemangkasan suku bunga pekan ini menyatakan kekhawatiran bahwa inflasi masih terlalu tinggi untuk membenarkan penurunan biaya pinjaman, terutama di tengah minimnya data resmi terbaru mengenai laju kenaikan harga.

Ke depan, arah kebijakan moneter AS juga akan dipengaruhi oleh data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintah federal selama 43 hari pada Oktober dan November. Selain itu, Amerika Serikat tengah menuju tahun pemilihan paruh waktu, yang diperkirakan akan menyoroti kinerja ekonomi, di mana Presiden Donald Trump kembali mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah proses penunjukan ketua The Fed berikutnya. Isu ini dinilai berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap independensi bank sentral AS di bawah pemerintahan Trump.

Dikutip dari metrotvnews.com