Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan pentingnya peningkatan prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional sebagai salah satu indikator negara maju. Hal itu disampaikan mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang menilai kemajuan negara tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi.
Tito menyayangkan rendahnya alokasi belanja daerah untuk sektor kepemudaan dan olahraga yang hanya berada pada angka 0,93 persen dari total APBD nasional. Dari nilai APBD tahun 2025 sebesar Rp1.399 triliun, hanya sekitar Rp13 triliun yang dialokasikan untuk kedua sektor tersebut di 552 daerah.
Pada tingkat provinsi, anggaran gabungan mencapai Rp4,86 triliun. Sementara kabupaten dan kota masing-masing mengalokasikan sekitar Rp6 triliun dan Rp2,1 triliun. Ketimpangan anggaran dinilai menjadi persoalan mendasar. DKI Jakarta misalnya, bisa mengalokasikan hingga Rp1,2 triliun karena didukung APBD besar.
Sebaliknya, Tito menyebut masih ada daerah yang hanya mampu menganggarkan belasan bahkan puluhan juta rupiah untuk kepemudaan dan olahraga. Kondisi ini menurutnya jelas tidak cukup untuk mendukung fasilitas maupun pembinaan atlet.
Ia mencontohkan Kabupaten Kutai Timur yang menjadi salah satu daerah dengan alokasi anggaran terbesar, yakni sekitar Rp286 miliar. Sementara sejumlah daerah lainnya justru menganggarkan kurang dari Rp1 miliar.
Pemerintah pusat disebut telah menaruh perhatian serius terhadap pembinaan olahraga nasional. Sebelumnya, Presiden Prabowo menerima Menpora Erick Thohir di Istana Merdeka untuk membahas tiga kebijakan utama: peningkatan kesejahteraan atlet, penguatan ekosistem pembinaan olahraga, serta penyusunan payung hukum baru untuk fokus pada 21 cabang olahraga prioritas menuju Olimpiade.
Selain peningkatan skema bonus untuk ajang internasional, Presiden juga membuka peluang karier atlet berprestasi di sektor pelayanan publik serta beasiswa LPDP yang lebih terarah.
Dikutip dari RRI.co.id
