Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, Selasa, 10 Februari 2026, hingga pukul 09.47 WIB rupiah berada di level Rp16.782 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 23 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.805 per dolar AS.
Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di level Rp16.833 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berlangsung fluktuatif, namun berpeluang ditutup menguat. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.760 per dolar AS hingga Rp16.800 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara menyampaikan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung akan berlanjut setelah diskusi yang dinilai positif di Oman pada akhir pekan lalu.
“Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini,” jelas Ibrahim.
Sebelumnya, kekhawatiran akan eskalasi konflik sempat mendorong pelaku pasar membebankan premi risiko yang lebih tinggi terhadap harga minyak. Bahkan Presiden AS Donald Trump sempat mengancam tindakan militer terhadap Teheran. Namun, kemungkinan terjadinya perang besar di kawasan Timur Tengah kini dinilai semakin kecil, meskipun Iran tetap memberi sinyal akan melanjutkan program pengayaan nuklirnya.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting dari negara konsumen minyak terbesar dunia. Di Amerika Serikat, data penggajian non-pertanian untuk Januari dijadwalkan rilis pada Rabu, sementara data indeks harga konsumen atau CPI akan diumumkan pada Jumat.
“Data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari sisi fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan penerimaan pajak tahun 2026 berpotensi melampaui target APBN sebesar Rp2.357,7 triliun. Proyeksi tersebut disampaikan meskipun basis penerimaan pajak tahun sebelumnya tergolong rendah dan sempat menjadi sorotan lembaga pemeringkat internasional.
Pemerintah menargetkan penerimaan pajak 2026 tumbuh 7,69 persen secara tahunan dibandingkan target APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Namun, realisasi penerimaan pajak tahun lalu hanya mencapai Rp1.917,6 triliun, sehingga terjadi kekurangan atau shortfall sebesar Rp271,7 triliun.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah perlu mengejar tambahan penerimaan sekitar Rp440,1 triliun dari basis realisasi tahun 2025 untuk mencapai target tahun ini, yang setara dengan pertumbuhan sekitar 22,9 persen secara tahunan.
Meski demikian, optimisme tetap terjaga seiring melonjaknya realisasi penerimaan pajak pada Januari 2026 yang tercatat tumbuh 30,8 persen secara tahunan.
Di samping itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2026 tercatat meningkat 3,5 poin menjadi 127 dari posisi 123,5 pada Desember 2025. Level ini merupakan yang tertinggi dalam satu tahun terakhir atau sejak Januari 2025.
IKK yang berada di atas level 100 menunjukkan kepercayaan konsumen berada di zona optimistis. Indikator ini kerap digunakan untuk memprediksi arah konsumsi dan tabungan rumah tangga, sekaligus menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi domestik.
Dikutip dari metrotvnews.com
