Harga minyak dunia sedikit melemah pada Senin, 15 Desember 2025, melanjutkan kerugian tajam yang terjadi pada pekan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran kelebihan pasokan global serta prospek permintaan yang masih lemah, yang terus mendominasi sentimen pasar.
Mengutip Investing.com, Selasa, 16 Desember 2025, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Februari turun 0,2 persen menjadi USD61,02 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,2 persen ke level USD57,15 per barel.
Sepanjang pekan lalu, kedua patokan harga minyak tersebut tercatat mengalami penurunan lebih dari empat persen. Pelemahan ini terutama didorong oleh kekhawatiran bahwa pasokan minyak global akan melampaui pertumbuhan konsumsi.
Analis memperkirakan pasar minyak global akan memasuki tahun 2026 dalam kondisi surplus. Penambahan pasokan dari negara-negara OPEC+ dan produsen non-OPEC diperkirakan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan permintaan yang relatif lesu, khususnya dari Tiongkok dan kawasan Eropa.
Kondisi tersebut membuat harga minyak kesulitan menemukan dukungan yang berkelanjutan, meskipun risiko geopolitik masih membayangi pasar. Salah satu faktor penekan lainnya berasal dari ekspektasi diplomasi untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang berpotensi membawa kembali pasokan minyak Rusia ke pasar global.
Pembicaraan terbaru yang melibatkan pejabat Amerika Serikat dan Rusia memicu spekulasi bahwa kesepakatan damai, jika tercapai, dapat diikuti pelonggaran sanksi secara bertahap. Hal ini dinilai berpotensi menambah pasokan dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.
Dari sisi permintaan, data ekonomi terbaru menunjukkan produksi industri Tiongkok pada November meleset dari perkiraan, sementara penjualan ritel juga mencatatkan kinerja di bawah ekspektasi. Kondisi tersebut menegaskan perlambatan momentum di ekonomi terbesar kedua dunia, yang berdampak pada permintaan komoditas, termasuk minyak.
Meski demikian, risiko geopolitik masih memberikan dukungan terbatas terhadap harga. Serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur energi Rusia menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan, meskipun sentimen pasar tetap didominasi oleh isu pembicaraan damai.
Ketegangan yang kembali muncul antara Amerika Serikat dan Venezuela juga memberikan dukungan jangka pendek. Washington dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap Caracas, memicu kekhawatiran bahwa langkah penegakan hukum yang lebih keras dapat membatasi ekspor minyak mentah Venezuela, yang memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.
Dikutip dari metrotvnews.com
