Harga emas dunia (XAU/USD) menunjukkan pergerakan fluktuatif pada perdagangan hari ini seiring kombinasi aksi ambil untung investor dan meningkatnya ketidakpastian global. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, emas masih berada dalam tren bullish yang menguat, meskipun sempat mengalami koreksi dalam beberapa sesi terakhir.
Pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026, XAU/USD tercatat melemah lebih dari 0,70 persen. Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi profit taking setelah reli harga yang berlangsung selama dua pekan berturut-turut.
Selain faktor teknikal, tekanan juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja tidak selemah perkiraan. Situasi ini memicu keraguan pelaku pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve memangkas suku bunga hingga dua kali dalam waktu dekat.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyampaikan bahwa perubahan ekspektasi tersebut tercermin dari pasar swap yang mulai mengurangi proyeksi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Meski demikian, Andy menilai tekanan jual terhadap emas masih bersifat terbatas. Secara teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average justru mengindikasikan tren bullish XAU/USD semakin menguat. Pergerakan harga yang tetap bertahan di atas rata-rata pergerakan utama menunjukkan minat beli masih mendominasi pasar.
Berdasarkan proyeksi teknikal, apabila tekanan bullish mampu dipertahankan, XAU/USD berpotensi melanjutkan penguatan hingga menguji area USD4.750 per troy ons sebagai target kenaikan terdekat. Namun jika harga gagal melanjutkan penguatan dan kembali terkoreksi, area USD4.565 diperkirakan menjadi level support penting dalam jangka pendek.
Memasuki awal pekan, harga emas kembali menunjukkan penguatan signifikan. Pada sesi awal Asia Senin, 19 Januari 2026, emas tercatat melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru di dekat level USD4.675 per troy ons.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana kebijakan terkait Greenland. Trump menyatakan tarif sebesar 10 persen akan diberlakukan mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, Inggris, dan Norwegia.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran akan potensi aksi balasan dari Uni Eropa, sehingga mendorong investor kembali memburu aset safe haven seperti emas. Para duta besar Uni Eropa dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk meningkatkan upaya diplomasi sambil menyiapkan langkah pembalasan jika tarif tersebut diberlakukan.
Di sisi lain, penguatan emas masih dihadapkan pada tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di sektor pasar tenaga kerja, sehingga menurunkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Kontrak berjangka dana Fed kini menunda ekspektasi penurunan suku bunga berikutnya ke Juni dan September. Pandangan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama cenderung menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah, yang berpotensi membatasi ruang kenaikan emas ke depan.
Secara keseluruhan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Faktor geopolitik global dinilai mampu menjaga tren bullish tetap terjaga, namun tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi tetap menjadi risiko yang perlu dicermati oleh pelaku pasar.
Dikutip dari metrotvnews.com
