DPR Tekankan Penanganan Krisis Iklim Perlu Solusi Menyeluruh

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menyatakan krisis iklim harus dijawab melalui kebijakan yang menyentuh akar persoalan dan dapat diterapkan secara konkret di daerah. Menurutnya, langkah nyata perlu dimulai dari sektor yang paling memungkinkan untuk ditangani, khususnya sektor pertanian.

Berdasarkan peta emisi Kabupaten Trenggalek, Novita menyebut sektor pertanian menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di wilayah tersebut. Emisi tersebut terutama berasal dari penggunaan pupuk kimia nitrogen secara masif yang menghasilkan gas dinitrogen oksida (N₂O).

“Oleh karena itu, tugas utama kita hari ini adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara nyata dan terukur. Hal itu dimulai dari sektor yang paling mungkin ditangani di daerah, yaitu pengolahan limbah organik, misalnya limbah dari SPPG dan Dapur MBG,” ujar Novita saat soft launching program Perempuan Sarinah di Trenggalek, Minggu (21/12/2025).

Ia menjelaskan, langkah tersebut sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem pertanian dan kelestarian lingkungan.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi beras atau jagung, tetapi bagaimana kita merawat sumber-sumber kehidupan agar pertanian tetap produktif untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Novita menilai pengolahan limbah organik menjadi solusi strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni penurunan emisi gas rumah kaca dan penguatan kemandirian pangan masyarakat. Selain berdampak pada lingkungan, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru.

Ia mengungkapkan sektor pertanian menyumbang sekitar 40 persen emisi daerah. Untuk itu, Novita mendorong penerapan bauran pupuk dengan komposisi 60 persen pupuk kimia dan 40 persen pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan sampah. Skema tersebut dinilai mampu menjaga kualitas tanah dan air sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian.

Dalam konteks tersebut, Novita menyebut program Perempuan Sarinah sebagai pendekatan transformasi sosial dan ekonomi yang memadukan ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, pemberdayaan perempuan, serta pengembangan ekonomi hijau.

“Orang lain melihat ini sebagai krisis, tetapi Perempuan Sarinah melihat ini sebagai peluang,” katanya.

Ia menambahkan Trenggalek menjadi titik temu visi ketahanan pangan nasional serta nilai-nilai pelestarian lingkungan yang juga pernah ditekankan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Menurut Novita, pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan agenda lingkungan dan ekonomi rakyat akan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Ketika agenda lingkungan berjalan seiring dengan ekonomi rakyat, manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat. Inilah arah pembangunan yang berkeadilan, berdaulat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dikutip dari RRI.co.id