Bursa Wall Street Merosot untuk Kedua Kalinya

Indeks S&P 500 kembali melemah pada perdagangan Kamis, 20 November 2025, setelah reli awal yang dipicu oleh saham Nvidia mereda. Kekhawatiran investor terhadap valuasi saham AI yang dinilai terlalu tinggi membuat indeks utama Wall Street kembali terkoreksi, sementara harapan pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember semakin menipis.

Mengutip Investing.com, Jumat (21/11/2025), Dow Jones Industrial Average anjlok 386 poin (0,8%), S&P 500 turun 1,6%, dan NASDAQ Composite merosot 2,2%.

Nvidia Melemah Meski Laba Melesat

Saham Nvidia yang sempat menguat di awal perdagangan justru berbalik melemah 3%. Padahal, perusahaan tersebut melaporkan lonjakan profit dan proyeksi kuartal ketiga yang jauh melampaui ekspektasi.

Kekhawatiran pasar muncul dari sentimen bahwa valuasi Nvidia dan sektor AI telah berada di level yang terlalu tinggi. Pendiri Bridgewater, Ray Dalio, turut memberikan peringatan mengenai potensi terbentuknya gelembung AI, meskipun ia tetap menyarankan investor agar tidak gegabah menjual saham.

CEO Nvidia Jensen Huang menepis kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa permintaan chip AI bukan hanya terbatas pada pusat data, tetapi akan meluas ke sektor-sektor lain. Huang juga membela investasi Nvidia di OpenAI, yang menurutnya bertujuan memperluas ekosistem dan mempercepat pertumbuhan industri AI.

Meski saham Nvidia terkoreksi, laporan kinerjanya yang kuat tetap menjadi indikator bahwa permintaan teknologi AI masih tinggi, sehingga mendorong sentimen positif di sektor teknologi secara lebih luas.

Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Desember Melemah

Data tenaga kerja AS yang dirilis Kamis pagi menunjukkan perekonomian menambah 119 ribu lapangan kerja pada September, melampaui perkiraan 50 ribu. Namun, data ini diiringi revisi penurunan pada angka Agustus sebesar 4.000 dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,4%, tertinggi dalam empat tahun.

Kombinasi data tersebut mencerminkan pelemahan pasar tenaga kerja, namun belum cukup kuat untuk meyakinkan pejabat The Fed yang bersikap hawkish agar mendukung penurunan suku bunga pada Desember.

Dalam catatannya, Stifel menyatakan:

“Dalam jangka pendek, meningkatnya kekhawatiran mengenai penurunan suku bunga Desember, ditambah data pasar tenaga kerja yang belum solid, memperkuat posisi The Fed untuk tetap berhati-hati hingga akhir tahun.”

Dengan pasar tenaga kerja yang melemah namun inflasi masih menjadi kekhawatiran utama, investor semakin mempertanyakan apakah The Fed akan memberikan pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Dikutip dari metrotvnews.com