Dolar AS Kuat, Euro dan Mata Uang Lain Tertekan di Tengah Konflik Iran–AS

Dolar AS Kuat, Euro dan Mata Uang Lain Tertekan di Tengah Konflik Iran–AS

Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari lima minggu. Penguatan ini dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven setelah eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Mengutip data Investing.com, indeks dolar—yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia—naik 0,8 persen ke level 98,38, tertinggi sejak akhir Januari.

Dolar Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir pekan. Konflik berlanjut setelah Iran melakukan serangan balasan yang memicu ledakan di sejumlah wilayah Israel serta negara Teluk seperti UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.

Presiden Donald Trump menyatakan operasi militer akan berlanjut “selama diperlukan”, memperkuat kekhawatiran pasar akan konflik berkepanjangan.

Analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison, menyebut lonjakan indeks dolar menunjukkan bahwa mata uang AS masih menjadi pilihan utama investor saat krisis.

“Pergerakan ini merupakan indikasi kuat bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang safe haven pilihan bagi investor,” ujarnya.

Euro dan Poundsterling Tertekan

Di kawasan Eropa, pasangan EUR/USD turun 0,9 persen menjadi 1,1707. Mata uang euro tertekan karena potensi lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah dinilai dapat membebani industri Eropa.

Analis di ING Group menyebutkan kenaikan harga energi dapat memicu penyesuaian ulang ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi kawasan tersebut.

Menurut ING, jika tidak terjadi de-eskalasi cepat, EUR/USD berpotensi turun ke kisaran 1.1575–1.1600.

Sementara itu, GBP/USD turun 0,5 persen menjadi 1,3417. Sterling ikut tertekan di tengah penguatan dolar.

Pasangan EUR/CHF naik 0,3 persen menjadi 0,9113, dengan franc Swiss menguat tajam sebagai aset safe haven hingga mencapai level terkuatnya dalam lebih dari satu dekade terhadap euro.

ING juga menilai tekanan penguatan franc dapat mendorong Swiss National Bank mempertimbangkan kembali kebijakan suku bunga negatif.

Pergerakan Mata Uang Asia

Di Asia, USD/JPY melonjak 0,7 persen menjadi 157,20. Lonjakan harga energi dinilai dapat memperburuk beban impor minyak Jepang, sementara ketidakpastian global berpotensi membuat Bank of Japan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga.

USD/CNY naik 0,4 persen menjadi 6,8821, bergerak menjauhi level terendah 34 bulan yang tercapai pekan lalu.

Sementara itu, AUD/USD turun 0,3 persen menjadi 0,7092. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko ikut terpukul oleh kenaikan harga minyak dan memburuknya sentimen global.

Dolar Tetap Jadi Safe Haven Utama

Kenaikan indeks dolar menegaskan kembali posisi greenback sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global, khususnya ketika konflik berdampak langsung pada sektor energi.

Selama risiko geopolitik dan lonjakan harga minyak masih membayangi pasar, dolar AS berpotensi tetap berada dalam tren penguatan dalam jangka pendek.

Dikutip dari metrotvnews.com