Wall Street Terkoreksi, Gejolak Tarif Trump dan Saham Teknologi Jadi Pemicu

Wall Street Terkoreksi, Gejolak Tarif Trump dan Saham Teknologi Jadi Pemicu

Wall Street ditutup melemah pada Senin, 23 Februari 2026, setelah Mahkamah Agung (MA) AS menolak tarif darurat yang diberlakukan Presiden Donald Trump, memicu ketidakpastian pasar. Saham-saham perangkat lunak juga terpukul karena laporan yang menyoroti risiko cepatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Indeks acuan S&P 500 turun 1 persen menjadi 6.838,95 poin, NASDAQ Composite turun 1,1 persen menjadi 22.627,27 poin, dan Dow Jones Industrial Average turun 1,7 persen menjadi 48.804,06 poin, dikutip dari Investing.com, Selasa (24/2/2026).

Tarif Global 15 Persen dan Respons Trump

Presiden Trump sebelumnya menaikkan tarif sementara impor menjadi 15 persen dari 10 persen, setelah MA menilai ia melampaui wewenangnya dalam menyatakan keadaan darurat ekonomi. Trump menanggapi putusan itu dengan memberlakukan tarif global 15 persen selama 150 hari melalui Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974.

Michael Landsberg, kepala investasi di Landsberg Bennett Private Wealth Management, menilai kebijakan tarif ini menambah ketidakpastian di pasar. “Pertanyaan besar bagi perekonomian adalah apa yang terjadi setelah periode ini, dan jika kebijakan tarif tetap berjalan seperti ini, kita mungkin akan kembali ke Mahkamah Agung akhir tahun ini,” katanya.

Pandangan The Fed

Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menilai efek putusan tarif terhadap inflasi jangka pendek terbatas. Menurutnya, bank sentral fokus pada inflasi inti dan tidak akan terlalu terpengaruh oleh fluktuasi tarif. Waller merupakan salah satu pembuat kebijakan yang menentang keputusan Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen pada Januari 2026.

Fokus Industri AI: Laporan Keuangan Nvidia

Investor kini menunggu laporan kuartal keempat fiskal Nvidia, perusahaan prosesor AI terbesar, yang menjadi indikator permintaan industri AI. Nvidia diperkirakan membukukan laba per saham USD1,52 dengan pendapatan USD65,56 miliar, dibandingkan EPS USD0,89 dan pendapatan USD39,33 miliar tahun lalu.

Kekhawatiran pasar terkait AI menyebabkan penurunan tajam saham perangkat lunak dan logistik dalam beberapa minggu terakhir, sementara ketidakpastian prospek industri memengaruhi sektor teknologi lebih luas.

Dikutip dari metrotvnews.com