Akses Terbatas, 26 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi

Lebih dari sebulan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, kondisi di wilayah terdampak masih menghadapi tantangan berat. Sebanyak 26 desa hingga kini masih terisolasi akibat akses jalan yang belum sepenuhnya terbuka serta sejumlah jembatan yang putus.

Keterisolasian tersebut terjadi di beberapa kecamatan. Di Kecamatan Bintang, tiga desa belum dapat ditembus karena material longsor yang panjang dan tebal menutupi badan jalan hingga menyebabkan jalur transportasi terputus. Proses pembersihan dan pembukaan akses jalan saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh.

Sementara itu, sejumlah desa di kecamatan lainnya terisolasi akibat jembatan penghubung yang hanyut diterjang banjir. Kecamatan yang terdampak antara lain Ketol, Linge, dan Rusip Antara.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah akan memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 10 hari ke depan. Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan dampak bencana dapat berjalan optimal.

“Saat ini pemerintah terus bergerak bersama-sama stakeholder lainnya untuk penyaluran bantuan, layanan kesehatan, hingga pembersihan dan pembukaan jalan, karena material longsor yang sangat tebal dan luas,” ujar Haili Yoga, Kamis, 8 Januari 2026.

Akibat terhambatnya akses darat, penyaluran bantuan logistik ke 26 desa yang terisolasi masih mengandalkan jalur udara. Metode dropping bantuan dari udara menjadi pilihan utama agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Selain itu, proses evakuasi warga yang membutuhkan penanganan medis juga dilakukan menggunakan helikopter yang disediakan oleh BNPB. Upaya ini dilakukan untuk menjangkau korban di wilayah yang sama sekali tidak dapat diakses oleh kendaraan darat.

Dikutip dari metrotvnews.com